Laman

Minggu, 27 Maret 2016

Mengasah Keikhlasan, Mengikis Kemunafikan

�� BimbinganIslam.com
Sabtu, 11 Jumadal Ūlā 1437 H / 20 Februari 2016 M
�� Materi Tematik
�� Ustadz Dr Sufyan Baswedan, MA
�� Ceramah Singkat | Mengasah Keikhlasan, Mengikis Kemunafikan
⬇️ Download audio:  https://goo.gl/SxUvFN
➖➖➖➖➖➖➖
MENGASAH KEIKHLASAN, MENGIKIS KEMUNAFIKAN

بسم اللّه الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته 
الحمد لله وحده، والصلاة والسلام على من لا نبي بعده، وعلى آله وصحبه ومن والاه. أما بعده

Para Sahabat BiAS yang dimuliakan oleh Allāh.

Kali ini ada sepetik hadits yang pantas kita renungi dan kita pelajari serta kita amalkan, hadits ini adalah hadits yang cukup terkenal,

☑️ Hadits pertama dalam kitab shahih Bukhari,
☑️ Hadits pertama dalam kitab pertama dalam kitab 'Umdatul Ahkam
☑️ Dan banyak kitab lainnya termasuk Arbain An Nawawiyah,

Ini menunjukan betapa pentingnya kita memahami serta merenungi hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam Shahihain.

Dari Sahabat Umar Bin Khatab Radhiyallāhu'anhu,‎

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .

Artinya secara garis besar adalah,

"Setiap amalan sesungguhnya tergantung pada niatnya, dan masing-masing orang hanya akan mendapat sesuai dengan yang diniatkan, maka barangsiapa yang hijrah demi mencari ridha Allāh dan menolong Rasūlullāh maka hijrahnya adalah sesuai dengan apa yang dia niatkan, yaitu kepada Allāh dan Rasūlullāh.

Dan barangsiapa yang hijrah demi mencari nilai dunia atau menikahi seorang wanita dinegeri lain, maka dia hanya berhijrah mencari apa yang didapatkan"

Ma'āsyiral Muslimīn yang dimuliakan oleh Allāh,

Masalah niat adalah masalah yang sangat penting karena Allāh Subhānahu wa Ta'āla adalah dzat yang paling pencemburu yang paling tidak bisa disejajarkan dengan yang lain.

Dalam hadits yang lain Allāh Subhānahu wa Ta'āla mengatakan dalam (hadits qudsi),

أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنْ الشِّرْكِ؛ مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فيه مَعِي غَيْرِي، تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ".
(رواه مسلم)(وكذلك ابن ماجه)

"Aku adalah dzat yang paling tidak butuh kepada tandingan, kepada saingan, aku paling tidak bisa disaingi, maka barangsiapa mengamalkan suatu amalan yang dia menunjukan dengan amalan itu sesuatu selainku (alias dia menunjukan kepadaku sebagian dan kepada yang lain juga sebagian yang lain) maka aku tinggalkan dia bersama tandinganku (bersama sainganku tadi)."

(HR Muslim dan Ibnu Majah)

Oleh karena itu  Ma'āsyiral Muslimīn,

Masalah niat adalah masalah yang sangat penting yang harus senantiasa kita perhatikan dan kita luruskan, kita jaga, karena tanpa niat yang benar tanpa keikhlasan amal kita akan sia-sia.

Dan keikhlasan Ma'āsyiral Muslimīn adalah sesuatu yang sangat mahal, sangat berat, tidak mudah untuk menjadi orang  yang ikhlas  dalam beramal. Oleh karena itu para assalafus shalih senantiasa berusaha melatih diri mereka untuk senatiasa ikhlas dalam beramal.

Salah satu cara yang cukup efisien, cukup efektif untuk menjadi orang yang ikhlas adalah dengan memperbanyak amal ibadah yang tersembunyi, yang tidak diketahui oleh seorangpun termasuk orang-orang terdekat kita, termasuk oleh istri dan anak kita, sahabat, orangtua dan yang semisalnya.

Dalam sebuah atsar yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu As Sakir dalam kitabnya tarikh dimashk ada seseorang yang datang kepada Hudzaifah Ibnu Al Yaman.

سأله رجل، فقال : يا أبا عَبْد اللَّهِ (حذيفة ابن اليمن), إني أخشى أن أكون منافقا، قال : هل صليت إذا خلوت،، وتستغفر إذا أذنبت ؟ قال : نعم، قال : اذهب, فما جعلك الله منافقا.

"Wahai Abu Abdillāh Hudzaifah Ibnu Al Yaman, aku khawatir bilamana diriku ini termasuk orang munafik."

Maka Hudzaifah balik bertanya kepada nya, "Apakah ketika engkau sedang sendirian engkau tetap shalat? dan ketika engkau berbuat dosa, dosa besar engkau beristigfar?"

"Iyaa."

"Kalau begitu silahkan pergi, semoga Allāh tidak menjadikanmu sebagai orang yang munafik."

Ma'āsyiral Muslimīn, para sahabat BiAS yang dimuliakan oleh Allāh

Dari atsar ini ada satu pelajaran penting yang bisa kita tangkap, kita amalkan (yaitu) bahwa keikhlasan itu perlu dilatih.

Salah satu cara paling efisien dan efektif untuk melatih keikhlasan dan menghindarkan diri dari kemunafikan adalah dengan memperbanyak ibadah-ibadah dikala kita sedang sendirian.

==> Salah satu ciri khas kemunafikan adalah,
√ Riya'
√ Sum'ah,
√ Beramal semata-mata supaya dilihat dan diperhatikan orang lain yang kemudian dipuji oleh mereka.

Usahakan agar setiap ibadah kita memiliki ibadah lain yang semisal dengan nya yang tidak diketahui oleh seorangpun.

Ada sebagian ibadah yang tidak mungkin kita sembunyikan dari manusia seperti ibadah-ibadah yang merupakan syiar islam yang kita lakukan secara berjam'ah seperti: 

√ Shalat lima waktu dimasjid bagi laki-laki‎.
√ Puasa Ramadhan.
√ Membayar Zakat.
√ Menunaikan Ibadah haji.
√ Dan lain-lainnya.

Namun pasti disamping ibadah-ibadah yang kita lakukan secara terang-terangan, Islam juga membuka kesempatan bagi kita untuk melakukannya secara sembunyi-sembunyi tanpa diketahui oleh seorangpun.

Selain kita melaksanakan shalat wajib lima waktu kita juga dituntut untuk banyak melakukan shalat sunnah di rumah.

Nah ketika itulah usahakan anda memiliki shalat-shalat yang tidak diketahui oleh seorang pun yang dengan itu Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan menjaga anda, melindungi anda dari perbuatan riya' dan sum'ah atau perbuatan Kemunafikan pada Amalan-amalan yang tidak tersembunyi dari manusia.

Makin banyak seseorang melalukan amalan-amalan yang tersembunyi maka Allāh Subhānahu wa Ta'āla akan menjaganya ketika dia harus menunjukan amalannya kepada orang lain, demikian juga dengan zakat kita juga diberi peluang oleh Allāh untuk bersedekah secara tersembunyi, bahkan ini pahalanya juga cukup besar.

Dalam hadist Rasūlullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda,

صَدَقَةُ السِّرِّ تُطْفِئُ غَضَبَ الرَّبِّ

"Sedekah yang tersembunyi itu akan memadamkan kemurkaan Allāh Subhānahu wa Ta'āla"
(Shahih at-Targhib)

Demikian juga dengan dzikrullāh, dengan tasbih, tahmid dan takbir kita bisa melakukannya tanpa diketahui oleh orang lain, demikian juga dengan puasa dan lain-lain.

Demikian para sahabat BiAS yang dimuliakan oleh Allāh, mudah-mudahan tausiyah singkat ini bermanfaat.

Dan marilah kita segera mengamalkan dan memperbanyak ibadah-ibadah yang tersembunyi agar Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjaga ibadah-ibadah kita nampak dimata manusia.

Waallahu ta'ala a'lam

وصلى الله على نبينا محمد، وعلى آله وصحبه وسلم.
السلام عليكم ورحمة اللّه وبركاته
________________________________
�� Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

�� Website: 
http://www.bimbinganislam.com
�� Facebook Page: 
Fb.com/TausiyahBimbinganIslam
�� Telegram Channel:
http://goo.gl/4n0rNp
�� TV Channel:
http://BimbinganIslam.tv