Laman

Jumat, 20 Mei 2016

Jauhilah Sifat Pelit

[14:52 11/04/2016] ‪+62 812-3489-2689‬: �� BimbinganIslam.com
Senin, 04 Rajab 1437 H / 11 April 2016 M
�� Ustadz Firanda Andirja, MA
�� Kitābul Jāmi' | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
�� Hadits 04| Jauhilah Sifat Pelit (Bagian 1)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS02-FA-Bab04-H4-1
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

وَعَنْ جَابِرٍ - رضى الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ : { اِتَّقُوا اَلظُّلْمَ, فَإِنَّ اَلظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ, وَاتَّقُوا اَلشُّحَّ , فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ }

Dari Jabir  radhiyallāhu 'anhu, beliau berkata, Rasulullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

"Jauhilah berbuat zhalim karena perbuatan zhalim adalah kegelapan yang bertumpuk-tumpuk pada hari kiamat dan jauhilah sifat "syuh" (sangat pelit) karena sifat sangat pelit tersebut telah membinasakan orang-orang sebelum kalian."

(HR Muslim 2578).
〰〰〰〰〰〰〰

JAUHILAH SIFAT PELIT (BAGIAN 1 DARI 2)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwan dam akhwat yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta'āla,

Kita masih dalam Bab Tarhib min Masawil Akhlak (Bab Tentang Peringatan Bahaya dari Akhlak-akhlak yang Buruk, kita masuk pada hadits yang ke-4.

Dari Jabir  radhiyallāhu 'anhu, beliau berkata, Rasulullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

اِتَّقُوا اَلظُّلْمَ, فَإِنَّ اَلظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ, وَاتَّقُوا اَلشُّحَّ , فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ

"Jauhilah berbuat zhalim karena perbuatan zhalim adalah kegelapan yang bertumpuk-tumpuk pada hari kiamat dan jauhilah sifat "syuh" (sangat pelit) karena sifat sangat pelit tersebut telah membinasakan orang-orang sebelum kalian."

(HR Muslim 2578)

Hadits ini terdiri dari 2 bagian.

BAGIAN PERTAMA

Jauhilah perbuatan zhalim karena perbuatan zhalim merupakan kegelapan yang bertubi-tubi pada hari kiamat, dan telah kita jelaskan pada pembahasan hadits yang sebelumnya.

Oleh karenanya kita akan konsentrasi pada bagian yang kedua.

BAGIAN KEDUA

Jauhilah kalian "asy syuh" (sifat sangat pelit) karena itulah yang telah membinasakan orang-orang sebelum kalian.

Asy syuh maknanya adalah pelit yang amat sangat yang disertai dengan semangat untuk meraih harta, bahkan harta milik orang lain.

Oleh karenanya, Rasulullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyebutkan bahwasannya syuh inilah yang membinasakan umat-umat terdahulu, ini benar.

Kita lihat bagaimana terjadinya pertempuran dan penjajahan. Suatu negara datang ke negera yang lain untuk merebut harta yang dimiliki negara tersebut karena adanya sifat tamak.

Dan inilah yang menyebabkan terjadinya peperangan dan penjajahan pada umat-umat terdahulu.

Dalam Al Quran juga banyak ayat yang menjelaskan tentang buruknya sifat pelit, seperti firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَآ ءَاتٰىهُمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِۦ هُوَ خَيْرًا لَّهُم ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِۦ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ

"Sekali-sekali janganlah orang yang bakhil dengan harta yang Allāh berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka, sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di leher mereka pada hari kiamat."

(QS Ali Imran: 180)

Seperti juga firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ

"Barang siapa yang bakhil, maka sesungguhnya dia bakhil untuk dirinya sendiri."
(QS Muhammad: 38)

Ini celaan dari Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kemudian juga firman Allāh Subhānahu wa Ta'āla:

وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Barang siapa yang terjaga dari sifat pelit maka sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang beruntung."

(Al Hasyr: 9)

Orang yang pelit sesungguhnya menunjukkan bahwa keimanannya kepada hari akhirat dan kepada Allāh Subhānahu wa Ta'āla kurang.

Dalam suatu hadits Rasulullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda :

وَلاَ يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالإِيمَانُ فِي قَلْبِ عَبْدٍ أَبَدًا

"Tidak akan berkumpul sifat pelit dan keimanan dalam hati seorang hamba selama-lamanya."

(HR Nasa'i: 3111)

Kenapa?

Karena kalau orang yang beriman dengan iman yang benar maka dia yakin bahwasanya harta yang dia keluarkan akan diganti oleh Allāh di dunia maupun di akhirat.

Jadi, kapan seseorang itu pelit? Yaitu tatkala dia kurang yakin.

Dalam Al Qur'an terlalu banyak Allāh memerintahkan, "Infaqlah,..," "Bersedekahlah...," banyak sekali.

Dalam hadits juga Rasulullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam menyeru untuk bersedekah.

Betapa banyak ayat-ayat dan hadits-hadits ini namun tidak menggerakkan hatinya untuk bersedekah, malah justru membuat dirinya pelit. Ini menunjukkan keimanannya kurang.

Kalau keimanannya kuat, dia akan yakin bahwa apa yang dikeluarkannya akan diganti oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Sehingga seseorang bisa mengukur imannya dari sifat pelitnya. Kalau teryata dia pelit maka imannya kepada Allāh dan hari akhirat kurang.

Oleh karenanya dalam hadits Rasulullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

الصدقة برهان

"Bahwa sedekah itu adalah burhan (bukti)."

Maksudnya apa?

Maksudnya bukti tentang keimanan.

Anda, kalau mengaku beriman kepada Allāh harus ada buktinya, buktinya mana?

Buktinya yaitu anda mau bersedekah.

Maka paksakan anda untuk bersedekah, sebagai bukti bahwa anda beriman, bahwa sedekah yang anda keluarkan akan diganti oleh Allāh Subhānahu wa Ta'āla.

Kita lanjutkan nanti dalam pembahasan berikutnya.

_____________________________
��Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

��Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com
[15:51 13/04/2016] ‪+62 812-3489-2689‬: �� BimbinganIslam.com
Rabu, 06 Rajab 1437 H / 13 April 2016 M
�� Ustadz Firanda Andirja, MA
�� Kitābul Jāmi' | Bab Peringatan Terhadap Akhlak-Akhlak Buruk
�� Hadits 04| Jauhilah Sifat Pelit (Bagian 2)
⬇ Download audio: bit.ly/BiAS02-FA-Bab04-H4-2
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

وَعَنْ جَابِرٍ - رضى الله عنه - قَالَ: قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ : { اِتَّقُوا اَلظُّلْمَ, فَإِنَّ اَلظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ, وَاتَّقُوا اَلشُّحَّ , فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ }

Dari Jabir  radhiyallāhu 'anhu, beliau berkata, Rasulullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam bersabda:

"Jauhilah berbuat zhalim karena perbuatan zhalim adalah kegelapan yang bertumpuk-tumpuk pada hari kiamat dan jauhilah sifat "syuh" (sangat pelit) karena sifat sangat pelit tersebut telah membinasakan orang-orang sebelum kalian."

(HR Muslim 2578).
〰〰〰〰〰〰〰

JAUHILAH SIFAT PELIT (BAGIAN 2 DARI 2)

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله

Ikhwan dan akhwat,

Kita lanjutkan pembahasan hadits ke-4 tentang "وَاتَّقُوا اَلشُّحَّ " / "Jauhilah Sifat Pelit".

Sesungguhnya sifat pelit adalah sifat yang sangat tercela.

Pelit ada banyak bentuknya sebagaimana diisyaratkan oleh para ulama, seperti Syaikh Abdurrahman bin Sa'di rahimahullāhu Ta'ala dalam tafsirnya, yaitu:

يمنعون ما عندهم مما آتاهم الله من فضله، من المال والجاه والعلم

"Orang-orang yang tidak memberikan karunia Allāh yang diberikan kepada mereka, seperti harta, kedudukan dan ilmu."

Jadi, Allāh memberi karunia kepada mereka akan tetapi mereka tidak memberikan (membagi) karunia tersebut kepada hamba-hamba Allāh yang lain.

Karunia itu seperti: "al māl"  (harta), "al jāh" (kedududkan) dan juga 'ilm (ilmu).

Ini menunjukkan bahwa ada orang yang bakhil dengan hartanya dan ada yang bakhil dengan kedudukannya, misalnya dia mampu untuk memberi syafa'at (pertolongan) tapi dia tidak mau melakukannya.

Ada juga orang yang bakhil dengan ilmunya, dia mempunyai ilmu akan tetapi jika ditanya tidak mau menjawab atau tidak berdakwah bahkan berusaha menyembunyikan ilmunya.

Ini adalah bakhil dengan ilmunya.

Juga ada bentuk kebakhilan yang lain seperti dalam hadits Rasulullāh shallallāhu 'alayhi wa sallam:

وَإِنَّ أَبْخَلَ النَّاسِ مَنْ بَخِلَ بِالسَّلامِ

"Sesungguhnya orang yang paling bakhil yaitu orang yang bakhil dengan salam."

Yaitu tatkala bertemu dengan saudaranya dia bakhil untuk mengucapkan salam, bahkan bakhil juga untuk menjawab salam ketika diberi salam.

Salam adalah perkara yang mudah yang tidak ada ruginya bahkan tidak ada biaya yang keluar.

Sehingga ketika bertemu saudara tinggal mengucapkan, "Assalāmu'alaikum."

Kalau dia mengucapkan salam berarti telah mengucapkan doa dan berpahala dan saudaranya juga mendapatkan pahala jika menjawab salamnya.

Bakhil seperti ini biasanya karena ada keangkuhan di dalam dirinya .

Kebakhilan ada beberapa derajat.

Derajat pertama, yaitu

▪BAKHIL TERHADAP DIRI SENDIRI

Ada orang yang seperti ini kehidupannya. Dia memiliki kelebihan harta namun dia bakhil terhadap dirinya sendiri.

Sampai disebutkan oleh Ibnu Qudamah rahimahullāh:

فكم من بخيل يمسك المال ويمرض فلا يتداوى،

"Betapa banyak orang yang bakhil. Dia mempunyai harta namun dia tidak menggunakan hartanya tersebut, sehingga jika dia sakit tidak mau berobat karena tidak ingin megeluarkan biaya."

Ada seseorang yang sakit dan ketika diajak untuk berobat ketempat yang mahal yang lebih baik dia enggan. Dia memilih berobat dengan yang lebih murah namun akhirnya meninggal dunia.

Kalau dia tidak mempunyai uang maka hal ini wajar, akan tetapi kalau dia mempunyai uang (harta) maka orang seperti ini berbahaya.

Kenapa?

Karena dia bukan hanya menyiksa dirinya sendiri dengan kebakhilannya akan tetapi juga menyiksa orang-orang terdekatnya, misalkan istrinya.

Istrinya melihat suaminya kaya namun dia tidak mendapat bagian harta, tidak dibelikan macam-macam (keperluannya).

Kemudian anak-anaknya pun menderita.

Saya pernah mendengar suatu ceramah tentang seseorang yang bakhil.

Tatkala meninggal, setelah dicek ternyata diketahui bahwa hartanya banyak. Maka anak-anaknyapun marah.

Sang hakim yang memberitahukan bahwa ayahnya memiliki harta yang banyak menjadi heran.

Anak-anaknya berkata: "Kami tidak mengetahui kalau ternyata ayah kami kaya. Selama ini kami hidiup dalam kondisi yang susah."

Mereka bukan senang tatkala mengetahui harta warisannya banyak, justru mereka marah kepada ayah mereka.

Oleh karenanya orang bakhil seperti ini bukan hanya menyiksa dirinya akan tetapi juga menyiksa orang-orang yang disekitarnya.

Dan sungguh menakjubkan orang yang bakhil, sebagaimana perkataan Ibnu Muflih:

"Orang seperti ini hidupnya susah. Dia bakhil agar terhindar dari kefakiran. Dia mengumpulkan uang supaya tidak menjadi fakir. Namun kenyataanya kehidupannya seperti orang miskin. Dia justru terjerumus pada kondisi yang ingin dihindari yaitu kefakiran."

Dia ingin mengumpulkan harta yang banyak supaya menjadi orang kaya, namun karena dia bakhil maka dia hidup seperti orang miskin dan ini musibah.

Dia hidup seperti orang miskin di dunia namun di akhirat dia akan dihisab dengan hisabnya orang kaya.

Inilah nasib buruk bagi seorang yang bakhil.

Derajat yang kedua,

▪BAKHIL TERHADAP ORANG LAIN

Ini masih lebih ringan dari pada yang pertama.

Seharusnya kita tidak perlu bakhil karena kalau kita memberikan harta kita selama tidak membuat mudharat bagi kita maka akan berpahala.

Makanya Allāh mengatakan:

وَمَنْ يَبْخَلْ فَإِنَّمَا يَبْخَلُ عَنْ نَفْسِهِ

"Barang siapa bakhil maka sesungguhnya dia bakhli kepada dirinya sendiri."

(QS Muhammad: 38)

Kenapa?

Karena orang yang bakhil akan menghalangi pahala bagi dirinya sendiri.

Karena hartanya yang sesungguhnya adalah harta yang dia keluarkan, yang diberikan di jalan Allāh seperti diberikan kepada fakir miskin.

Itulah tabungan dia di akhirat kelak. Di akhirat kelak dia sangat butuh dengan pahala.

Jadi ingat, bahwa orang yang bakhil sesunguhnya dia bakhil terhadap dirinya sendiri.

Demikianlah para ikhwan dan akhwat,

Semoga Allāh Subhānahu wa Ta'āla menjauhkan kita dari sifat bakhil.

والله أعلمُ بالصواب
_____________________________
��Donasi Operasional & Pengembangan Dakwah Group Bimbingan Islam
| Bank Mandiri Syariah
| Kode Bank 451
| No. Rek : 7103000507
| A.N : YPWA Bimbingan Islam
| Konfirmasi Transfer : +628-222-333-4004

��Saran Dan Kritik
Untuk pengembangan dakwah group Bimbingan Islam silahkan dikirim melalui
SaranKritik@bimbinganislam.com