EPISTEMIC GOVERNANCE SELF-ASSESSMENT TOOL (EGSAT)
Alat Evaluasi Diri untuk Negara (Opsional – Internal Use Only)
Nama Praktis: Pre-Decision Reflection Tool
Accountability‑Based Universal Wisdom and Trust
Cross-Sector Pre-Decision Governance Translator
Versi: Uji Coba Internal
Tanggal: Maret 2026
Status: Alat Bantu Internal – Bukan untuk Pemeringkatan Publik
Lisensi: CC BY-NC-SA 4.0
Kontak: tpapgtk@gmail.com
⚡ CARA MEMBACA DOKUMEN INI (Mulai dari Sini)
Anda tidak perlu membaca seluruh dokumen dari awal sampai akhir.
Mulailah dari:
· Bagian 6 – Daftar pertanyaan untuk diskusi tim
· Bagian 10 – Intervensi sederhana yang bisa dilakukan minggu depan
· ⚡ EGSAT Lite (30 menit) – Untuk sesi cepat atau uji coba awal
Gunakan dokumen ini sebagai alat diskusi, bukan bahan bacaan. Cetak bagian 6 dan 10, bawa ke rapat tim, diskusikan bersama. Dokumen ini dirancang untuk dipakai, bukan disimpan.
📌 EGSAT: QUICK WIN TOOL
EGSAT adalah alat mitigasi risiko kebijakan – membantu mendeteksi potensi kegagalan sebelum anggaran dikeluarkan.
Bukan alat penilaian kinerja, tetapi alat untuk memperbaiki kualitas keputusan yang berdampak langsung pada keberhasilan program dan penggunaan anggaran.
Menggunakan EGSAT sebelum keputusan besar adalah bentuk kehati-hatian profesional (professional due diligence).
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Waktu yang Dibutuhkan | 2–3 jam (versi lengkap) / 30 menit (versi Lite) |
| Dampak Potensial | Tinggi (jika dilakukan dengan jujur dan diikuti tindak lanjut) |
| Risiko | Rendah (tidak dipublikasikan, tidak ada sanksi administratif) |
| Syarat | Kesediaan tim untuk berdiskusi jujur |
EGSAT bukan kewajiban administratif, tetapi sangat direkomendasikan untuk keputusan berisiko tinggi sebagai bagian dari mitigasi risiko kebijakan.
📍 PRE-DECISION CHECKPOINT (Opsional tapi Direkomendasikan)
EGSAT paling efektif digunakan sebelum keputusan strategis diambil. Direkomendasikan untuk digunakan sebelum:
| Jenis Keputusan | Keterangan |
|---|---|
| Kebijakan dengan nilai anggaran > Rp 10 Miliar | Risiko finansial tinggi, perlu pengujian asumsi yang matang |
| Proyek strategis daerah (prioritas kepala daerah) | Dampak politik dan reputasi signifikan |
| Program baru (bukan lanjutan tahun sebelumnya) | Tidak memiliki basis evaluasi dari tahun sebelumnya |
| Kebijakan dengan dampak sosial tinggi | Memengaruhi banyak masyarakat, rentan terhadap protes atau resistensi |
| Keputusan yang akan diajukan ke rapat pimpinan | Sebagai bahan refleksi sebelum presentasi final |
🏷️ DECISION RISK TAGGING
Setiap penggunaan EGSAT wajib menandai tingkat risiko keputusan yang akan diambil:
| Tag | Kriteria | Tindak Lanjut |
|---|---|---|
| 🟢 Low Risk | Anggaran kecil (< Rp 1 M), dampak terbatas, rutin tahunan | Dokumentasi minimal |
| 🟡 Medium Risk | Anggaran sedang (Rp 1-10 M), dampak cukup luas, program baru | EGSAT lengkap direkomendasikan |
| 🔴 High Risk | Anggaran besar (> Rp 10 M), proyek strategis, dampak sosial tinggi | EGSAT WAJIB digunakan sebagai bagian dari due diligence |
⚠️ VISUAL RISIKO (Alarm Effect)
| Kondisi | Status | Konsekuensi Praktis | Tindakan yang Disarankan |
|---|---|---|---|
| Jika ≥2 dimensi dengan skor < 2,5 | ⚠️ Risiko Kegagalan Kebijakan Tinggi | Terdapat kemungkinan tinggi bahwa kebijakan: tidak tepat sasaran, mengalami revisi berulang, atau gagal dalam implementasi | Intervensi segera dalam 1 bulan |
| Jika 1 dimensi dengan skor < 2,5 | ⚠️ Risiko Sedang | Perlu perhatian khusus pada area yang lemah untuk mencegah eskalasi masalah | Intervensi dalam 3 bulan |
| Jika semua dimensi skor ≥ 3 | ✅ Relatif Aman | Proses penalaran cukup baik, namun tetap perlu evaluasi rutin | Pertahankan dan evaluasi rutin |
🔁 FAILURE PATTERN TRIGGER
Jika pola kegagalan yang sama muncul ≥2 kali dalam 5 tahun terakhir (dari identifikasi Bagian 10.2), wajib dibahas dalam sesi khusus. Sesi khusus ini bertujuan untuk mengidentifikasi akar masalah sistemik dan merancang intervensi yang lebih mendalam, tidak sekadar perbaikan permukaan.
RINGKASAN EKSEKUTIF
Epistemic Governance Self-Assessment Tool (EGSAT) – atau Pre-Decision Reflection Tool – adalah alat bantu yang dirancang untuk membantu pemerintah (pusat dan daerah) mengevaluasi kualitas proses penalaran dalam perencanaan kebijakan mereka. Berbeda dengan indeks global yang memeringkat negara, EGSAT adalah alat self-assessment opsional yang:
- Tidak dipublikasikan secara eksternal
- Tidak digunakan untuk pemeringkatan
- Tidak memiliki konsekuensi administratif (tidak ada sanksi)
- Digunakan hanya untuk pembelajaran internal dan identifikasi area perbaikan
- Membantu mendeteksi potensi kegagalan kebijakan sebelum anggaran dikeluarkan
Peringatan Penggunaan: EGSAT dirancang dengan bahasa yang halus dan berorientasi pada pembelajaran, bukan evaluasi kinerja. Seluruh pertanyaan diformulasikan untuk mendorong refleksi, bukan menghakimi. Penggunaan alat ini bersifat sukarela dan hasilnya sepenuhnya menjadi milik tim pengguna.
Prinsip Dasar:
“Alat ini adalah cermin untuk melihat diri sendiri. Bukan papan peringkat untuk dilihat orang lain.”
Fleksibilitas Sektoral:
Pertanyaan dalam alat ini dapat disesuaikan dengan konteks sektor (infrastruktur, pendidikan, kesehatan, dll) tanpa mengubah struktur utama.
Eksplorasi alternatif dalam EGSAT tidak dimaksudkan untuk menggantikan arahan pimpinan, tetapi untuk memperkaya pertimbangan sebelum keputusan final diambil.
📋 EGSAT DAPAT DILAMPIRKAN SEBAGAI BAGIAN DARI:
- Evaluasi program tahunan
- Penyusunan RKPD / Renstra
- Laporan internal unit
- Bahan rapat pimpinan sebagai ringkasan refleksi pra-keputusan (opsional)
- 1-Page Insight Summary dapat digunakan sebagai bahan refleksi bagi pimpinan sebelum mengambil keputusan final.
⚡ EGSAT LITE (30 MENIT) – VERSI CEPAT UNTUK PILOT / PEJABAT SIBUK
Untuk sesi cepat atau uji coba awal, gunakan 6 pertanyaan kunci ini (2 per dimensi):
| Dimensi | Pertanyaan | Skor 1-5 |
|---|---|---|
| Agency | A1: Seberapa sering tim melakukan analisis akar masalah sebelum menyusun kebijakan? | |
| A4: Seberapa sering tim menyusun justifikasi tertulis untuk keputusan penting? | ||
| Diversity | B2: Seberapa sering tim melibatkan pakar dari luar dalam proses perumusan kebijakan? | |
| B3: Seberapa sering kelompok terdampak dilibatkan sebelum kebijakan ditetapkan? | ||
| Learning | C1: Seberapa sering tim melakukan evaluasi pasca-proyek? | |
| C3: Seberapa sering pola masalah yang sama muncul kembali dalam kebijakan/proyek berbeda? |
Setelah mengisi, langsung ke Bagian 10 untuk menentukan intervensi sederhana.
DAFTAR ISI
- 1. Pendahuluan: Mengapa Self-Assessment?
- 2. Filosofi dan Prinsip Dasar
- 3. Posisi EGSAT dalam Arsitektur ABUWT
- 4. Kapan Menggunakan EGSAT?
- 5. Tiga Konstruk Inti
- 6. Alat Self-Assessment: Daftar Pertanyaan (Versi Lengkap)
- 7. Rubrik Penilaian Diri
- 8. Metode Pengisian
- 9. Interpretasi Hasil dan Trigger Aksi
- 10. Rencana Tindak Lanjut: Siklus Perbaikan
- 11. Studi Kasus Ilustratif
- 12. Lampiran (A–E)
1. PENDAHULUAN: MENGAPA SELF-ASSESSMENT?
1.1 Masalah dengan Indeks Global
| Masalah | Penjelasan |
|---|---|
| Stigma | Negara merasa dihakimi oleh pihak luar |
| Bias | Metodologi sering tidak sesuai dengan konteks lokal |
| Resistensi | Negara enggan berpartisipasi karena takut reputasi |
| Tidak berdampak | Hanya menjadi hiasan laporan tanpa perubahan nyata |
1.2 Kelebihan Self-Assessment
| Kelebihan | Penjelasan |
|---|---|
| Aman | Tidak dipublikasikan, tidak ada konsekuensi reputasi |
| Kontekstual | Dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan budaya lokal |
| Pembelajaran | Fokus pada perbaikan internal, bukan peringkat |
| Kepemilikan | Negara memiliki proses dan hasilnya sendiri |
1.3 Tujuan EGSAT
| Tujuan | Penjelasan |
|---|---|
| Diagnosis | Mengidentifikasi kelemahan dalam proses perencanaan |
| Pembelajaran | Membantu tim perencana belajar dari pengalaman |
| Perbaikan | Menyediakan titik awal untuk intervensi perbaikan |
| Dokumentasi | Merekam pertimbangan untuk evaluasi di masa depan |
| Mitigasi Risiko | Mendeteksi potensi kegagalan kebijakan sebelum anggaran dikeluarkan |
2. FILOSOFI DAN PRINSIP DASAR
2.1 Filosofi
EGSAT dibangun di atas keyakinan bahwa: 1. Setiap organisasi memiliki ruang untuk belajar. Tidak ada yang sempurna. 2. Kejujuran lebih penting daripada skor tinggi. Mengakui kelemahan adalah langkah pertama menuju perbaikan. 3. Proses lebih penting daripada hasil akhir. Kualitas penalaran menentukan kualitas keputusan. 4. Diskusi lebih penting daripada skor. Perbedaan pendapat dalam tim adalah sinyal pembelajaran, bukan kelemahan.
2.2 Prinsip Penggunaan
| Prinsip | Penjelasan |
|---|---|
| Sukarela | Tidak wajib. Hanya jika tim merasa perlu. |
| Rahasia | Hasil hanya untuk internal. Tidak perlu dilaporkan ke atasan. |
| Reflektif | Alat ini untuk merenung, bukan untuk menilai. |
| Aman | Tidak ada sanksi untuk skor rendah. Tidak ada penghargaan untuk skor tinggi. |
| Dialog | Perbedaan pendapat dalam tim adalah bahan diskusi, bukan konflik. |
2.3 Kehati-hatian dalam Formulasi
EGSAT dirancang dengan bahasa yang mendorong refleksi dan pembelajaran, bukan evaluasi kinerja yang bersifat menghakimi. Pertanyaan diformulasikan untuk membuka ruang diskusi konstruktif, dengan fokus pada ruang eksplorasi alternatif dan peluang perbaikan, bukan pada evaluasi terhadap arahan pimpinan atau penilaian terhadap individu. Seluruh terminologi dipilih untuk menjaga suasana aman dan mendukung pertumbuhan bersama. Eksplorasi alternatif dalam EGSAT tidak dimaksudkan untuk menggantikan arahan pimpinan, tetapi untuk memperkaya pertimbangan sebelum keputusan final diambil.
3. POSISI EGSAT DALAM ARSITEKTUR ABUWT
EGSAT adalah Diagnostic Layer – alat refleksi awal yang digunakan sebelum atau bersamaan dengan implementasi instrumen lain seperti MVEG (Maturity Verification in Epistemic Governance) atau EGMM (Epistemic Governance Maturity Model).
EGSAT digunakan sebelum atau bersamaan dengan MVEG untuk mengidentifikasi area prioritas perbaikan. Hasil dari self-assessment ini dapat menjadi masukan berharga sebelum melakukan asesmen yang lebih formal menggunakan instrumen lain. Dengan kata lain, EGSAT adalah titik masuk yang aman dan tidak mengancam bagi organisasi yang ingin mulai memperbaiki kualitas penalaran dalam pengambilan keputusan.
4. KAPAN MENGGUNAKAN EGSAT?
| Momen | Penjelasan |
|---|---|
| Sebelum reformasi kebijakan | Sebagai alat diagnosis awal untuk mengidentifikasi kelemahan dalam proses perencanaan sebelum melakukan perubahan besar |
| Setelah proyek gagal atau mangkrak | Untuk memahami akar masalah dari sisi proses penalaran, bukan sekadar mencari kesalahan teknis |
| Saat evaluasi tahunan | Sebagai bagian dari refleksi rutin tim perencana, melengkapi evaluasi kinerja yang sudah ada |
| Sebelum perencanaan anggaran tahun berikutnya | Untuk memastikan bahwa pembelajaran dari tahun sebelumnya diintegrasikan ke dalam perencanaan yang akan datang |
| Ketika terjadi pergantian kepemimpinan | Sebagai alat transfer pengetahuan tentang praktik baik dan area yang perlu perbaikan |
Frekuensi yang Disarankan: 1-2 kali per tahun, atau sesuai kebutuhan tim.
5. TIGA KONSTRUK INTI
| Konstruk | Pertanyaan Kunci | Risiko jika Lemah |
|---|---|---|
| Epistemic Agency | Apakah tim perencana memiliki ruang untuk mengeksplorasi alternatif dan berpikir kritis? | Kehilangan kemampuan analisis mandiri, keputusan menjadi sekadar mengikuti prosedur |
| Epistemic Diversity | Apakah masalah dilihat dari berbagai sudut pandang? | Groupthink, kebijakan sempit, kurangnya perspektif alternatif |
| Learning Velocity | Apakah tim belajar dari pengalaman masa lalu? | Kesalahan berulang, stagnasi kebijakan |
6. ALAT SELF-ASSESSMENT: DAFTAR PERTANYAAN (VERSI LENGKAP)
6.1 Cara Mengisi
Untuk setiap pertanyaan, beri skor 1-5 berdasarkan rubrik di Bagian 7. Diskusikan dalam tim, bukan diisi sendiri. Tidak ada jawaban benar atau salah. Catatan Penting: Jika terdapat perbedaan skor lebih dari 2 poin antar anggota tim untuk pertanyaan yang sama, diskusikan secara khusus. Perbedaan ini adalah sinyal bahwa ada perspektif berbeda yang perlu dipahami bersama. Jangan langsung mengambil rata-rata tanpa diskusi.
A. EPISTEMIC AGENCY (Ruang Eksplorasi dan Pemikiran Mandiri)
| No | Pertanyaan | Skor 1-5 | Catatan |
|---|---|---|---|
| A1 | Seberapa sering tim melakukan analisis akar masalah sebelum menyusun kebijakan? | ||
| A2 | Seberapa sering tim mengajukan pertanyaan kritis terhadap asumsi yang digunakan dalam dokumen perencanaan? | ||
| A3 | Seberapa sering tim memberikan alternatif terhadap arahan awal yang diterima, dengan justifikasi tertulis? | ||
| A4 | Seberapa sering tim menyusun justifikasi tertulis untuk keputusan penting, yang menjelaskan alasan di balik pilihan kebijakan? | ||
| A5 | Seberapa besar ruang eksplorasi alternatif yang tersedia bagi tim untuk mengusulkan pendekatan yang berbeda dari arahan awal? |
Skor Rata-Rata A (Agency): _____
B. EPISTEMIC DIVERSITY (Keragaman Perspektif)
| No | Pertanyaan | Skor 1-5 | Catatan |
|---|---|---|---|
| B1 | Seberapa beragam latar belakang keilmuan dalam tim perencana (ekonomi, teknik, sosial, lingkungan, dll)? | ||
| B2 | Seberapa sering tim melibatkan pakar dari luar kementerian/lembaga (universitas, think tank, praktisi) dalam proses perumusan kebijakan? | ||
| B3 | Seberapa sering kelompok terdampak (masyarakat, pengusaha, pekerja) dilibatkan sebelum kebijakan ditetapkan? | ||
| B4 | Seberapa besar pengakuan terhadap pengetahuan lokal (adat, praktik masyarakat) dalam dokumen perencanaan? | ||
| B5 | Seberapa sering tim membahas dan mempertimbangkan cara pandang alternatif sebelum menetapkan solusi? |
Skor Rata-Rata B (Diversity): _____
C. LEARNING VELOCITY (Kecepatan Belajar)
| No | Pertanyaan | Skor 1-5 | Catatan |
|---|---|---|---|
| C1 | Seberapa sering tim melakukan evaluasi pasca-proyek untuk mengidentifikasi apa yang berhasil dan tidak berhasil? | ||
| C2 | Seberapa cepat pembelajaran dari evaluasi diintegrasikan ke dalam dokumen perencanaan berikutnya? | ||
| C3 | Seberapa sering pola masalah yang sama muncul kembali dalam kebijakan/proyek berbeda? | ||
| C4 | Seberapa baik dokumentasi pembelajaran (lessons learned) dikelola dan diakses oleh tim? | ||
| C5 | Seberapa sering tim merevisi asumsi yang terbukti keliru dalam perencanaan berikutnya? |
Skor Rata-Rata C (Learning): _____
D. PERTANYAAN TAMBAHAN (Kualitatif)
| No | Pertanyaan | Jawaban Singkat |
|---|---|---|
| D1 | Sebutkan satu contoh kebijakan/proyek yang berhasil karena proses penalaran yang baik. Apa yang membuatnya berhasil? | |
| D2 | Sebutkan satu contoh kebijakan/proyek yang mengalami kendala. Menurut tim, apa akar masalahnya? | |
| D3 | Apa hambatan terbesar dalam meningkatkan kualitas penalaran di tim/lembaga? | |
| D4 | Saran perbaikan apa yang paling mendesak untuk dilakukan? |
E. INDIKATOR PERILAKU (BEHAVIORAL INDICATORS) – Observasi Selama Diskusi
| No | Indikator Perilaku | Ya | Tidak | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| E1 | Apakah ada orang yang secara eksplisit menyatakan tidak setuju dengan pendapat dominan dalam diskusi? | |||
| E2 | Apakah alternatif kebijakan benar-benar diperdebatkan secara substantif (bukan sekadar disebutkan)? | |||
| E3 | Apakah ada pertanyaan yang diajukan kepada asumsi dasar yang selama ini tidak dipertanyakan? | |||
| E4 | Apakah terjadi diskusi yang cukup panjang (lebih dari 5 menit) untuk satu pertanyaan? |
Catatan: Indikator perilaku ini tidak mempengaruhi skor, tetapi menjadi sinyal apakah proses diskusi benar-benar reflektif atau hanya formalitas.
7. RUBRIK PENILAIAN DIRI
7.1 Skala Umum
| Skor | Deskripsi | Kriteria |
|---|---|---|
| 1 | Belum pernah / Masih sangat terbatas | Belum pernah dilakukan / belum ada mekanisme |
| 2 | Kadang-kadang / Masih sederhana | Dilakukan kadang-kadang, belum sistematis |
| 3 | Cukup rutin / Mulai terstruktur | Dilakukan secara teratur, tapi belum menjadi rutinitas |
| 4 | Rutin / Baik | Dilakukan secara rutin dan terdokumentasi |
| 5 | Sangat baik / Menjadi budaya | Dilakukan secara sistematis, terdokumentasi, dan menjadi kebiasaan tim |
8. METODE PENGISIAN
8.1 Siapa yang Mengisi? Tim Perencana Inti (minimal 3-5 orang), Kepala Unit/Bidang (opsional), Fasilitator.
8.2 Waktu Pengisian: Pengisian mandiri (opsional) 30 menit, diskusi tim 60-90 menit, menyusun rencana 30 menit → total 2-3 jam.
8.3 Langkah Pengisian: 1) Pengisian mandiri, 2) Diskusi tim dengan perhatian pada perbedaan skor >2 poin, 3) Penghitungan skor, 4) Identifikasi area perbaikan, 5) Rencana tindak lanjut (termasuk 1-Page Insight Summary dan daftar minimal 3 kegagalan proyek dalam 5 tahun terakhir).
9. INTERPRETASI HASIL DAN TRIGGER AKSI
9.1 Kategori Skor per Dimensi
| Skor Rata-Rata | Kategori | Makna |
|---|---|---|
| 4,2 - 5,0 | Sangat Baik | Proses penalaran sangat baik. Pertahankan dan bagikan praktik baik. |
| 3,4 - 4,1 | Baik | Proses penalaran baik. Masih ada ruang perbaikan kecil. |
| 2,6 - 3,3 | Cukup | Proses penalaran cukup. Perlu peningkatan sistematis. |
| 1,8 - 2,5 | Perlu Perhatian | Proses penalaran masih lemah. Perlu intervensi perbaikan. |
| 1,0 - 1,7 | Perlu Perbaikan Segera | Proses penalaran sangat lemah. Intervensi segera diperlukan. |
9.2 Trigger Aksi (Wajib) Jika ≥2 dimensi dengan skor di bawah 2,5, tim disarankan memilih maksimal 2 intervensi prioritas, implementasi 3 bulan, evaluasi ulang 3-6 bulan.
9.3 Visual Risiko (Alarm Effect) (tabel sudah disajikan di awal).
9.4 Interpretasi per Dimensi (detail di naskah asli tetap utuh).
10. RENCANA TINDAK LANJUT: SIKLUS PERBAIKAN
10.1 Format Rencana Tindak Lanjut
| Prioritas | Area Perbaikan | Intervensi Sederhana | Penanggung Jawab | Target Waktu | Indikator Keberhasilan |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | |||||
| 2 | |||||
| 3 |
10.2 Contoh Intervensi Sederhana per Dimensi
- Agency: Sesi diskusi alternatif 15 menit, justifikasi tertulis, kelompok diskusi informal.
- Diversity: Undang pakar luar, konsultasi publik, minta masukan unit lain.
- Learning: Evaluasi pasca-proyek, folder pembelajaran, identifikasi pola masalah, daftar minimal 3 kegagalan proyek dalam 5 tahun terakhir dan identifikasi pola berulang.
11. STUDI KASUS ILUSTRATIF
11.1 Kasus: Dinas Pekerjaan Umum, Provinsi X
Profil: 5 tim perencana teknik sipil, 3 proyek jalan mangkrak dalam 5 tahun. Decision Risk Tagging: 🔴 High Risk.
Hasil Self-Assessment: Agency 2,4; Diversity 1,8; Learning 2,2. Indikator perilaku: E1 Ya, E2 Tidak, E3 Ya.
Diskusi Tim menyadari belum ada analisis geologi, belum libatkan pakar, evaluasi pasca-proyek belum pernah. Trigger Aksi: 3 dimensi <2,5 → pilih 2 intervensi prioritas.
| Prioritas | Intervensi | Penanggung Jawab | Target |
|---|---|---|---|
| 1 | Libatkan pakar geologi dalam perencanaan jalan berikutnya | Kepala Bidang | 1 bulan |
| 2 | Lakukan evaluasi pasca-proyek untuk 1 proyek yang mangkrak | Tim Perencana | 2 bulan |
| 3 | Buat daftar minimal 3 kegagalan proyek dalam 5 tahun terakhir dan identifikasi pola berulang | Tim Perencana | 3 bulan |
12. LAMPIRAN
Lampiran A: 1-Page Insight Summary (WAJIB)
Unit/Instansi: ___________ Tanggal Asesmen: ___________ Tim Pengisi: ___________ Decision Risk Tag: 🟢 Low / 🟡 Medium / 🔴 High
⚠️ VISUAL RISIKO
Epistemic Agency: ___ Epistemic Diversity: ___ Learning Velocity: ___
Kesimpulan Risiko: □ Tinggi (≥2 dimensi <2,5) □ Sedang (1 dimensi <2,5) □ Aman (semua ≥3)
Konsekuensi Praktis: ___________________
🔍 3 KELEMAHAN UTAMA
1. ________ 2. ________ 3. ________
💪 2 KEKUATAN UTAMA
1. ________ 2. ________
⚡ 2 INTERVENSI PRIORITAS (3 BULAN KE DEPAN)
1. ________ 2. ________
⚠️ 1 RISIKO KEBIJAKAN TERBESAR ________
📋 DOKUMEN INI DAPAT DILAMPIRKAN DALAM BAHAN RAPAT PIMPINAN SEBAGAI RINGKASAN REFLEKSI PRA-KEPUTUSAN (OPSIONAL).
Lampiran B: Formulir Self-Assessment Ringkas (1 Halaman)
Unit/Instansi: ___________ Tim Pengisi: ___________ Tanggal: ___________ Risk Tag: 🟢/🟡/🔴
A. Epistemic Agency: ___ B. Diversity: ___ C. Learning: ___
Indikator Perilaku: E1: __ E2: __ E3: __ E4: __
Area perlu perhatian: ________ Kekuatan: ________ Rencana prioritas: ________
Lampiran C: Lembar Catatan Diskusi
| Pertanyaan | Skor Konsensus | Perbedaan Skor (>2)? | Alasan / Diskusi |
|---|---|---|---|
| A1 | |||
| A2 |
Lampiran D: Glosarium Singkat
| Istilah | Arti Sederhana |
|---|---|
| Epistemic Agency | Ruang dan kemampuan tim untuk mengeksplorasi alternatif dan berpikir kritis |
| Epistemic Diversity | Melibatkan berbagai sudut pandang dalam perencanaan |
| Learning Velocity | Kecepatan tim belajar dari pengalaman |
| Assumption Testing | Menguji apakah asumsi yang digunakan masih relevan |
| Counter-Framing | Melihat masalah dari sudut pandang berbeda |
| Structured Dissent | Mekanisme untuk menyampaikan pandangan berbeda secara terstruktur |
| Lessons Learned | Catatan pembelajaran dari proyek yang sudah selesai |
Lampiran E: Template Fasilitator (Script Diskusi)
A. MEMBUKA DISKUSI (5 menit)
“Selamat pagi/siang. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk diskusi ini. Kita akan menggunakan alat yang disebut EGSAT – atau Pre-Decision Reflection Tool – untuk merefleksikan proses perencanaan kita selama ini. Tujuan diskusi ini bukan untuk menilai kinerja individu atau mencari kesalahan, melainkan: 1) Memahami proses penalaran, 2) Mengidentifikasi area perbaikan, 3) Mencegah potensi kegagalan kebijakan sebelum anggaran dikeluarkan. Hasil diskusi hanya untuk internal tim, tidak ada konsekuensi administratif. Menggunakan EGSAT sebelum keputusan besar adalah bentuk kehati-hatian profesional (professional due diligence).”
Aturan Dasar: Semua pendapat dihargai, tidak ada yang salah, perbedaan pendapat adalah bahan diskusi, fokus pada proses, eksplorasi alternatif bukan untuk menggantikan arahan pimpinan.
B. PROSES PENGISIAN (60-90 menit): Pengisian mandiri (opsional), diskusi per pertanyaan, penanganan perbedaan skor (>2 poin) dengan mendengarkan alasan, jika macet catat sebagai area perlu kajian. Kemudian pertanyaan kualitatif dan indikator perilaku.
C. PENUTUP DAN TINDAK LANJUT (30 menit): Rangkum skor, trigger aksi berdasarkan risiko, tentukan maksimal 2 intervensi prioritas, buat 1-Page Insight Summary, dokumentasikan daftar kegagalan, dan evaluasi ulang 3-6 bulan.
PENUTUP
Epistemic Governance Self-Assessment Tool (EGSAT) – atau Pre-Decision Reflection Tool – adalah alat untuk membantu tim perencana melihat praktik mereka sendiri. Bukan untuk dinilai orang lain. Bukan untuk dipublikasikan. Bukan untuk kompetisi. Seperti cermin, alat ini hanya berguna jika digunakan dengan jujur. Jika tidak, ia hanya kaca yang tidak pernah dipakai.
EGSAT bukan alat penilaian kinerja, tetapi alat mitigasi risiko kebijakan. Tidak memiliki konsekuensi administratif — tetapi hasilnya dapat digunakan untuk memperbaiki kualitas keputusan yang berdampak langsung pada keberhasilan program dan penggunaan anggaran. Menggunakan EGSAT sebelum keputusan besar adalah bentuk kehati-hatian profesional (professional due diligence).
Prinsip yang perlu diingat: Skor bukan tujuan. Kejujuran lebih penting daripada skor tinggi. Diskusi lebih penting daripada skor. Perubahan kecil lebih baik daripada rencana besar. Jika ada ≥2 dimensi <2,5 pilih 2 intervensi prioritas. Gunakan daftar kegagalan masa lalu untuk memutus siklus kesalahan yang sama. Eksplorasi alternatif tidak dimaksudkan untuk menggantikan arahan pimpinan, tetapi untuk memperkaya pertimbangan.
EGSAT adalah titik masuk yang aman dan tidak mengancam bagi organisasi yang ingin mulai memperbaiki kualitas penalaran dalam pengambilan keputusan. Hasil dari self-assessment ini dapat menjadi masukan berharga sebelum melakukan asesmen yang lebih formal menggunakan instrumen lain seperti MVEG atau EGMM.
Accountability‑Based Universal Wisdom and Trust
Cross-Sector Pre-Decision Governance Translator
Maret 2026
Lisensi: CC BY-NC-SA 4.0 – Silakan digunakan, diadaptasi, dan disebarluaskan untuk keperluan non-komersial dengan tetap mencantumkan sumber.
Kontak: tpapgtk@gmail.com